Senin, 18 November 2024

PRABU JAYABAYA

Prabu Sri Aji Jayabaya: Raja Bijaksana dari Kerajaan Kediri

Prabu Sri Aji Jayabaya, atau lebih dikenal sebagai Prabu Jayabaya, adalah salah satu raja yang terkenal dalam sejarah Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Ia merupakan Raja ketiga Kerajaan Panjalu, yang lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri, dan memerintah selama 24 tahun, dari tahun 1135 hingga 1159 Masehi. Prabu Jayabaya merupakan putra dari Prabu Kameswara Salakabhuwanatustikirana Sarwaniwaryawirya Parakramadigdayo Tunggadewa, cucu dari Prabu Sri Jayawarsa, pendiri Kerajaan Panjalu, serta cicit dari Prabu Airlangga, Raja Medang Kahuripan.

Selama masa pemerintahannya, Prabu Jayabaya dikenal sebagai sosok yang sangat bijaksana. Beliau memiliki kemampuan untuk meramalkan keadaan Tanah Jawa pada ratusan tahun yang akan datang, menjadikannya terkenal karena ramalan-ramalan yang terkait dengan masa depan Jawa. Selain itu, Prabu Jayabaya juga dikenal sebagai seorang pembangun yang memajukan Kerajaan Kediri dengan membangun berbagai infrastruktur penting, seperti jalan, jembatan, dan bendungan, yang berkontribusi pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Menurut berbagai sumber seperti Serat Pranitiradya dan Serat Pranitiwakya, Prabu Jayabaya juga dikenal sebagai seorang raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, menjadikannya dihormati dan dikenang sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.

Prabu Jayabaya menikah dengan Dewi Sara dan memiliki beberapa anak, antara lain Jaya Hamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jaya Hamijaya sendiri dipercaya menjadi leluhur bagi raja-raja besar di Jawa, termasuk raja-raja di Majapahit dan Mataram Islam. Sementara Dewi Pramesti menikah dengan Astradarma, Raja Yawastina, dan melahirkan Anglingdarma, Raja Malawapati.

Setelah memerintah dengan bijaksana selama 24 tahun, Prabu Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan mengakhiri hidupnya dengan moksha (mencapai kebebasan spiritual) di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Lokasi petilasan Prabu Jayabaya tersebut kini menjadi tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan ramai dikunjungi hingga saat ini. Beberapa situs penting yang terkait dengan Prabu Jayabaya di antaranya adalah:

1. Titik Pamoksan (tempat semedi hingga akhirnya moksha),

2. Loka Busana (tempat sang raja melukar busana),

3. Loka Makuta (tempat sang raja menanggalkan mahkota),

4. Sendang Tirta Kamandanu (mata air yang berjarak sekitar 500 meter dari pusara pamoksan).

Prabu Sri Aji Jayabaya tidak hanya dikenang sebagai raja besar, tetapi juga sebagai tokoh legendaris yang memberikan banyak pengaruh terhadap sejarah dan budaya Jawa, serta meninggalkan warisan yang masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini.

#jayabaya #srijayabaya #prabujayabaya #ramalanjayabaya #sejarahnusantara #sejarahjawa #jawa #ajijayabaya #SejarahNusantara #penggemarberat #pengikut #sorotan

SRI SULTAN HAMENGKU BOWONO 1

“ SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I ”

Dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi, pendiri dan pembangun Keraton Yogyakarta ini lahir pada tanggal 5 Agustus 1717 dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Sujono. Pangeran Mangkubumi merupakan putra Sunan Amangkurat IV melalui garwa selir yang bernama Mas Ayu Tejawati. Kelak, sebagai peletak dasar budaya Mataram, beliau akan memberi warna dan ruh tidak hanya bagi lingkungan keraton tetapi seluruh masyarakat Yogyakarta.

Sedari kecil, BRM Sujono dikenal sangat cakap dalam olah keprajuritan. Beliau mahir berkuda dan bermain senjata. Selain itu, beliau juga dikenal sangat taat beribadah sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Budaya Jawa.

Berkat kecakapan itulah, ketika paman beliau yang bernama Mangkubumi meninggal pada tanggal 27 November 1730, beliau lalu diangkat menjadi Pangeran Lurah. Yaitu pangeran yang dituakan di antara para putera raja. Kelak, ketika sudah dewasa, beliau juga menyandang nama yang sama dengan pamannya. BRM Sujono kemudian lebih dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi.

Mengenai ketaatan beribadah Pangeran Mangkubumi secara rinci dikisahkan dalam Serat Cebolek. Disitu digambarkan mengenai kebiasaan beliau puasa Senin-Kamis, sholat lima waktu dan juga mengaji Al Quran. Dalam serat ini pula dikisahkan bahwa beliau gemar mengembara dan mengadakan pendekatan dengan masyarakat, serta memberikan pertolongan kepada yang lemah.
Sifat beliau ini menghasilkan kesetiaan yang mendalam di antara para pengikutnya. 

Pada tahun 1746, ketika mengangkat senjata melawan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Pangeran Mangkubumi memiliki pengikut sebanyak 3000 prajurit. Pada tahun 1747 jumlahnya meningkat pesat menjadi 13000 prajurit, dimana diantaranya terdapat 2500 prajurit berkuda. Kesetiaan dan kesediaan mengikuti beliau ini kemudian meluas hingga ke masyarakat umum pada tahun 1750.

“PERJUANGAN ATAS BUMI MATARAM”

Era tahun 1740 adalah masa-masa berat bagi bumi Mataram. Pemberontakan merajalela, dimulai dengan Geger Pacina yang dipimpin oleh Sunan Kuning dibantu Pangeran Sambernyawa, hingga gerakan-gerakan sporadis yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyawa sendiri pada hari-hari selanjutnya. Akibatnya keraton harus berpindah dari Kartasura ke Surakarta pada tanggal 17 Februari 1745.

Untuk memadamkan pemberontakan Sambernyawa, Raja Mataram saat itu -Susuhunan Paku Buwono II mengadakan sayembara yang disambut dan dimenangkan oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi kemudian bermaksud untuk mengendalikan pesisir utara Jawa sebagai langkah strategis mengurangi pengaruh VOC di bumi Mataram. Akan tetapi, akibat penghianatan dan kecurangan yang dilakukan oleh Patih Pringgoloyo yang didukung VOC, langkah Pangeran Mangkubumi menemui jalan buntu.
Atas dasar peristiwa tersebut, Pangeran Mangkubumi kemudian memutuskan untuk keluar dari lingkup istana dan memulai serangan terbuka terhadap VOC. Keputusan tersebut menuai dukungan dari Pangeran Sambernyawa. Bersama Sambernyawa, Pangeran Mangkubumi berhasil membebaskan beberapa daerah dari cengkeraman VOC.
===========

Di sisi lain, pada akhir tahun 1749, kondisi kesehatan Paku Buwono II semakin menurun. Belanda memanfaatkan kondisi ini sehingga muncul traktat yang berisi penyerahan Kerajaan Mataram seluruhnya kepada VOC pada tanggal 16 Desember 1749. Hanya berselang hari, Paku Buwono II wafat dan kemudian digantikan oleh puteranya Paku Buwono III. Mengetahui adanya kesepakatan tersebut, maka Pangeran Mangkubumi dan Sambernyawa semakin sengit bertempur. Akibatnya, garis depan VOC terdesak dan pasukannya banyak yang tewas. Hanya dalam hitungan bulan, hampir seluruh wilayah Kerajaan Mataram sudah berada di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi.

Kegagalan menghadapi perjuangan Pangeran Mangkubumi ini mengakibatkan Gubernur Jawa Utara, Baron van Hohendroff, mengundurkan diri. Selain itu, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff yang berkedudukan di Batavia juga turut merasakan tekanan atas kekalahan tersebut. Baron van Imhoff kemudian jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Berikutnya, tampuk kepimpinan Gubernur Jawa Utara yang berkedudukan di Semarang diserahkan kepada Nicholas Hartingh.
Perubahan kepemimpinan VOC ini membawa perubahan dalam corak penyelesaian masalahnya. Hartingh yang dikenal supel dan lancar berbahasa Jawa, mendapatkan ide bahwa untuk menyelesaikan masalah ini hanya bisa didapat dengan cara mendekati Pangeran Mangkubumi dan menawarkan jalan perdamaian. Sadar bahwa dia tidak bisa melakukannya sendiri maka Hartingh mengutus seorang keturunan Arab, Syekh Ibrahim atau lebih dikenal dengan Tuan Sarip Besar, untuk menawarkan jalan perundingan kepada Pangeran Mangkubumi.
============

Pada tanggal 23 September 1754, pertemuan antara Hartingh dengan Pangeran Mangkubumi membuahkan hasil. Kesepakatan yang diperoleh merupakan rancangan awal perjanjian yang kemudian dikenal sebagai Palihan Nagari. Hasil kesepakatan ini disampaikan kepada Gubernur Jenderal dan Paku Buwono III. Kata sepakat dari Paku Buwono III diperoleh pada tanggal 4 November 1754. Kemudian butir-butir kesepakatan tersebut dituangkan dalam naskah Perjanjian Giyanti. Puncaknya pada tanggal 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti ditandatangani oleh pihak-pihak terkait.

Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut, babak awal Kasultanan Yogyakarta dimulai. Pada Kemis Pon, 13 Maret 1755 (29 Jumadilawal 1680 TJ) Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

“KASULTANAN NGAYOGYOKARTO HADININGRAT ”
===========

Dalam Babad Nitik Ngayogya, digambarkan mengenai kebijaksanaan dan kearifan Sultan Hamengku Buwono I. Juga disebutkan mengenai kecerdasan beliau terkait ilmu tata kota dan arsitektur. Dalam menentukan posisi Keraton Yogyakarta, menurut catatan itu, beliau mempertimbangkan letak dan keadaan lahan agar berpotensi menyejahterakan dan memberi keamanan untuk penduduk Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta yang berdiri kokoh hingga saat ini menempati posisi yang sangat strategis. Terdapat batas-batas alam berupa Kali Code di sebelah timur dan Kali Winongo di sebelah barat. Di sebelah utara dibatasi oleh Gunung Merapi, sementara di selatan berbatasan dengan pantai Laut Selatan. Arsitektural Keraton Yogyakarta sendiri sepenuhnya dirancang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I yang juga merupakan arsitek Keraton Surakarta. Tidak hanya tata ruang dan bangunannya, semua hiasan bahkan tumbuh-tumbuhan yang ditanam di kompleks keraton dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki nilai filosofis, dan spiritual yang tinggi. Selain kompleks keraton, Sri Sultan Hamengku Buwono juga membangun kompleks istana air Taman Sari. Atas hasil karya serta karakter kuat Sri Sultan Hamengku Buwono I, sejarawan menjuluki beliau sebagai “a great builder”, sejajar dengan Sultan Agung.

Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I bagi Yogyakarta begitu besar. Beliau mencetuskan konsep Watak Satriya seperti: Nyawiji(konsentrasi total), greget (semangat jiwa), sengguh (percaya diri) dan ora mingguh (penuh tanggung jawab). Konsep-konsep luhur ini menjadi credo atau prinsip bagi Prajurit Keraton, Abdi Dalem, dan juga gerak tari yang disebut Joged Mataram. Sri Sultan Hamengku Buwono I juga mengajarkan falsafah golong gilig manunggaling kawula Gusti (hubungan yang erat antara rakyat dengan raja dan antara umat dengan Tuhan) serta Hamemayu Hayuning Bawono (menjaga kelestarian alam). Semuanya menjadi nilai-nilai utama yang menjadi pedoman karakter tidak hanya bagi keraton tetapi juga masyarakat Yogyakarta.

Dalam bidang seni, peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I diantaranya adalah: Beksan Lawung, Tarian Wayang Wong Lakon Gondowerdaya, Tarian Eteng, dan seni Wayang Purwo. Gendhing kehormatan raja “Raja Manggala” dan “Tedhak Saking” juga diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Sri Sultan Hamengku Buwono I wafat pada tanggal 24 Maret 1792 (1 Ruwah 1718 TJ), dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan Imogiri. Kelak, pada tanggal 3 November 2006, sebuah negara non kerajaan yang proses kelahirannya sangat lekat dengan keturunan beliau akan menganugerahi Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasa dalam memperjuangkan jati diri bangsa .
===========

#Info #foryou #fakta #sejarah #photo #jangkauan

Jumat, 15 November 2024

JEBOLNYA BENTENG KERATON PAJAJARAN

JEBOLNYA BENTENG KERATON PAJAJARAN

Ketika Ratu Nilakendra menjabat sebagai Raja di Pajajaran (1551-1567), Perang Pajajaran dan Banten sudah tak dapat terelakan lagi. Mulanya perang kecil diperbatasan tapi kemudian merembet menjadi perang besar. 

Banten yang kala itu diperintah oleh Sultan Hasanuddin (1552–1570) pada akhirnya memutuskan untuk sesegara mungkin mengakhiri riwayat Pajajaran dengan cara menyerbu Ibu Kota Kerajaan. Tapi Perang selama 9 Tahun tak membuat Benteng Pakuan jebol juga.

Guna dapat menjebol Benteng Pakuan, akhirnya Banten menggunakan taktik imbalan, dimana Banten berjanji akan memberikan hadiah yang besar bagi siapa saja yang membuka pintu gerbang Pakuan. Akhirnya didalam tubuh pejabat kerajaan Pajajaran ada seorang yang berkhianat namanya "Ki Jonggo".

Dikisahkan Ki Jonggo ini adalah Tentara Rendahan yang hidupnya selalu dibuli tentara lain, meskpun pengabdiannya lama ia tidak pernah naik pangkat, sebab itulah ia gelap mata dan berkhianat. 
Ketika Pasukan Banten yang besar menyerang Pakuan, Ki Jonggo kemudian membuka salah satu pintu Gerbang Pakuan, akibatnya pertahanan Pajajaran dijebol, dimana pada waktu itu Pasukan Banten akhirnya menguasai Ibu Kota dan pada akhirnya menguasai Keraton. 

Utungya, sebelumnya jebolnya Pakuan, Ratu Nilakendra telah berhasil melarikan diri dikawal oleh para Panglima Tempurnya. Serbuan ini, meskipun Ibu Kota Kerajaan Pajajaran, tapi Pajajaran masih tetap utuh, sebab rajanya membangun Ibukota Darurat di Pedalaman.

Sejarah Cirebon